19. AL FATTAH (Dzat Yang Maha Membuka Setiap Kesulitan) Allah Ta’ala akan membuka kesulitan hamba-hambaNya apabila sang hamba mau memohon bimbingan kepadaNya. Pada dasarnya semua manusia pasti diberi karunia oleh Allah Ta’ala, baik berupa harta, ilmu maupun tenaga, sesuai dengan kemampuannya masing-masing. Dan apapun yang diberikan oleh Allah Ta'ala tersebut pasti akan dimintai pertanggung jawabannya diakhirat kelak. Sedangkan manusia adalah makhluq yang bodoh, lemah, tidak punya daya upaya dan kekuatan sedikitpun. Sehingga manusia merasa kesulitan didalam mengelola pemberian-pemberian Allah Ta’ala dengan benar. Dan didalam mengelola pemberian-pemberian Allah Ta’ala tersebut selalu ada pilihan fasik dan taqwa. Bagi orang-orang yang beriman akan merasa takut jika mengelola pemberian Allah Ta’ala sesuai dengan hawa nafsunya. Oleh sebab itu Allah Ta’ala telah menyiapkan diriNya untuk membantu hamba-hambaNya didalam mengelola pemberianNya apabila sang hamba mau memohon bimbingan kepadaNya. Karena banyak sekali manusia yang terjerumus kedalam jurang api neraka disebabkan salah didalam mengelola pemberian-pemberian Allah Ta’ala. Hal ini disebabkan dia merasa mampu mengelola amanah-amanah Allah Ta’ala dengan kemampuannya sendiri dan tidak mau memohon bimbingan kepada Allah Ta’ala. Sehingga dia mengelola pemberian-pemberian (amanah-amanah) Allah Ta’ala sesuai dengan hawa nafsunya, sehingga pertanggung jawabannya nanti diakhirat sungguh sangat berat. Sedangkan bagi orang-orang yang bisa mengelola pemberian-pemberian Allah Ta'ala sesuai dengan petunjuk Allah Ta'ala, maka diakhirat nanti tidak perlu dimintai pertanggung jawaban. Karena sudah mengelola sesuai dengan apa yang diinginkan Allah Ta'ala. Akan tetapi fasilitas yang telah diberikan Allah Ta’ala dengan sifat Al Fattah-Nya ini jarang sekali kita rasakan dan kita sadari apalagi kita manfaatkan. Selama ini kita merasa mampu untuk mengelola sendiri amanah-amanah yang diberikan Allah Ta’ala, padahal tanpa pertolongan Allah Ta’ala tidaklah mungkin kita dapat mengelolanya dengan benar. Dalam hidup ini, janganlah sekali-kali kita lepas dari Allah jika ingin selamat didunia dan diakhirat. Karena apabila didalam mengelola harta tidak memohon untuk dibimbing oleh Allah Ta’ala, maka kita akan cenderung merasa berat untuk melakukan amal ibadah dan amal sholeh, tetapi merasa ringan jika dipakai untuk memenuhi keinginan hawa nafsu, dan cenderung selalu merasa kurang dengan pemberia-pemberian Allah Ta’ala. Contoh ungkapan do’a : “Yaa Allah ..., Engkau telah memberi kami harta yang kami peroleh dari jalan yang halal. Yaa Allah..., janganlah Engkau jadikan harta ini melalaikan kami dari mengingatMu. Yaa Allah..., bimbinglah kami agar bisa menggunakan harta ini untuk lebih mendekatkan diri kepadaMu, dengan menambah amal ibadah dan amal sholeh yang dapat menyelamatkan kami dunia dan akhirat”. A. Sisi Tafakkurnya Seberapa banyak amanah-amanah yang Allah Ta’ala titipkan yang kita mohon dibimbing didalam mengelolanya? dan seberapa banyak yang kita merasa mampu untuk mengelolanya sendiri? B. Contoh Do’a Dari Sisi Keimanan Ya Allah, jadikanlah kami termasuk orang-orang yang selalu mendapat bimbingan-Mu didalam mengelola pemberian-pemberianMu kepada kami. C. Sikap Orang Beriman Orang-orang yang beriman sangat yakin bahwa apapun yang dia miliki didunia ini adalah titipan Allah Ta'ala yang akan dimintai pertanggung jawabannya diakhirat kelak. Oleh sebab itu dia merasa takut apabila salah didalam mengelola amanah-amanah dari Allah Ta'ala. Sehingga dia merasa tidak mampu mengelolanya sendiri dengan benar, tanpa bimbingan dari Allah Ta'ala. D. Sikap Orang Bertaqwa Orang-orang yang bertaqwa selalu berniat yang baik dan bersungguh-sungguh untuk menempuh jalan yang benar, sehingga dia selalu memohon bimbingan kepada Allah Ta'ala didalam mengelola pemberian-pemberianNya, agar sesuai dengan syareat yang telah Dia tentukan, sehingga bisa menjadi amal diakhirat kelak. Sebetulnya petunjuk-petunjuk Allah Ta'ala untuk mengelola amanah-amanah dari-Nya telah ada didalam Al Qur’an dan Al Hadits. Karena Al Qur’an adalah petunjuk bagi orang-orang yang bertaqwa, sedangkan Al Hadits adalah contoh teladan dari manusia pilihan yang paling bertaqwa kepada Allah Ta'ala. Oleh sebab itu sebelum mengelola amanah-amanah dari Allah Ta'ala, terlebih dahulu kita harus mencari hukumnya didalam Al Qur’an dan Al Hadits. Dan andaikata belum jelas, baru kita memohon bimbingan kepada Allah Ta'ala. Seseorang mau memohon bimbingan kepada Allah Ta'ala apabila dia meyakini dan menyadari bahwa apapun yang dia miliki hanya sebatas titipan dari Allah Ta'ala yang akan dimintai pertanggung jawabannya diakhirat kelak, baik yang dia miliki itu banyak atau sedikit. Jangan sekali-kali kita merasa bahwa pemberian Allah Ta'ala yang sedikit kita bisa mengelolanya sendiri. Karena yang dilihat oleh Allah Ta'ala adalah presentasenya. Seseorang yang diberi rizki oleh Allah Ta'ala sepuluh ribu, lalu dia sedekahkan lima ribu, maka orang lain yang diberi rizki sepuluh juta oleh Allah Ta'ala, apabila ingin sama harus menyedekahkan lima juta. Begitupun juga sebaliknya apabila orang yang diberi rizki sepuluh juta, lalu dia gunakan untuk kebutuhan hawa nafsunya lima juta, maka orang yang diberi rizki sepuluh ribu, lalu digunakan untuk kebutuhan hawa nafsunya lima ribu, maka dosanya juga sama. Oleh sebab itu bagi orang-orang yang bertaqwa dia tidak berani menggunakan pemberian-pemberian Allah Ta'ala untuk kebutuhan hawa nafsunya atau tidak sesuai dengan petunjuk Allah Ta'ala. Karena tujuan Allah Ta'ala menitipkan segala sesuatu kepada hamba-hambaNya, agar hamba-hambaNya bisa mendapatkan amal. Seharusnya semua orang yang beriman selalu memohon bimbingan kepada Allah Ta'ala didalam mengelola pemberian-pemberian-Nya, baik dia kaya atau miskin. Karena walaupun pemberian Allah Ta'ala itu sedikit, pasti akan dimintai pertanggung jawabannya kelak dihari kiamat. Dan apabila digunakan untuk memperturutkan hawa nafsu, maka hisabnya akan menjadi berat. Contoh ungkapan do’a : “Ya Allah ya Tuhan kami, Engkau telah memberi rizki kepada kami. Sungguh kami tidak bisa mengelolanya dengan benar tanpa bimbingan-Mu. Oleh sebab itu mohon Engkau bimbing kami didalam mengelolanya agar sesuai dengan syareat yang telah Engkau tentukan”. Akan tetapi bagi orang-orang yang fasik, dia merasa bahwa apapun yang dia miliki didunia ini adalah kepunyaannya sendiri. Dia tidak merasa bahwa semua itu adalah titipan Allah Ta'ala yang akan dimintai pertanggung jawabannya diakhirat kelak. Sehingga dia-pun merasa mampu mengelolanya sendiri dan cenderung menggunakannya untuk memperturutkan hawa nafsunya. E. Contoh Do’a Dari Sisi Ketaqwaan Ya Allah, tolonglah kami agar kami selalu dapat mengelola pemberian-pemberian-Mu sesuai dengan hukum-hukum yang telah Engkau tentukan. F. Sikap Orang Bertawakkal Orang-orang yang bertawakkal apabila dia telah memohon bimbingan kepada Allah Ta'ala, maka dia akan berserah diri kepada-Nya. Dan apabila Allah Ta'ala telah memberinya petunjuk, maka petunjuk tersebut akan dia jalankan walau apapun resikonya. Karena dia yakin bahwa petunjuk dari Allah Ta'ala pasti benar yang akan menyelematkannya diakhirat kelak. G. Sikap Orang Mukhlis Dia akan menerima dengan ikhlas apapun penyelesaian yang diberikan Allah Ta'ala atas permasalahan yang dia hadapi. Walaupun penyelesaian yang diberikan oleh Allah Ta'ala tidak sesuai dengan keinginan hawa nafsunya. H. Sikap orang-orang yang telah meneladani Asma’ Al Fattah Apabila sudah menjadi kholifah, maka ia akan merasakan bahwa apa-apa yang diberikan Allah Ta'ala kepadanya adalah lebih. Sehingga dengan kelebihan-kelebihan tersebut ia akan gunakan untuk nafkah dijalan Allah Ta’ala. Dan ia akan selalu membantu untuk menyelesaikan kesulitan-kesulitan yang dihadapi oleh manusia, baik dengan hartanya, tenaganya atau ilmunya. I. Contoh do’a bagi yang ingin meneladani Asma’ Al Fattah Ya Allah, jadikanlah kami perantara-perantaraMu untuk membantu manusia dalam pengelolaan apa-apa yang Engkau berikan kepada mereka, sehingga pengelolaan mereka sesuai dengan hukum-hukumMu. Agar manusia dapat melihat kemanfaatan dari pengelolaan pemberian-Mu kepada mereka akan menjadi baik bagi kehidupan mereka diakhirat.